SINIAGA - Sepuluh hari terakhir Ramadan, biasanya umat muslim mulai disibukan dengan beragam persiapan Idul Fitri. Seperti, mudik ke kampung halaman, berbelanja fashion, penyiapkan makanan khas Lebaran serta kebutuhan lainya. Agar saat mempersiapkan tradisi tersebut pengeluarannya bisa dikendalikan, dibutuhkan perencanaan keuangan yang tepat.
![]() |
| Ilustrasi : Merencanakan keuangan. Image by Pong at FreeDigitalPhotos.net |
Mendekati Lebaran, mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi berkah tersendiri bagi pekerja sebagai uang tambahan. Begitupun para pelaku usaha yang meneguk untung berlimpah pada momen Ramadan dan Lebaran membuat senyumnya semakin melebar.
Meskipun demikian, bukan berarti menjadi pembenaran berprilaku boros saat merayakan hari kemenangan. Karena, Allah SWT melarang agar tidak melakukan pemborosan. “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan-Nya,” (QS. al Isra’ : 27).
Sebaliknya, Allah SWT memerintahkan agar setiap muslim bisa berhemat dalam mengeluarkan pendapatanya. “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan apabila (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian,” (QS. al Furqon : 67). Dengan kata lain, barang siapa yang berlaku hemat dalam mengeluarkan hartanya, berarti telah menjalankan keadilan. Karena, ia menempatkan hartanya pada yang semestinya.
Begitupun saat mempersiapkan Lebaran, mengatur dan mengatasi pengeluaran merupakan pilihan yang tepat. Karena, membelanjakan uang tanpa perencanaan bisa mengganggu kondisi keuangan yang ada. Akibatnya, disaat dibutuhkan, uang sudah tidak ada. Yang pada akhirnya, mencari jalan pintas dengan menghutang.
Meskipun berhutang bukan cara yang dilarang, namun harus diperhatikan porsi hutang dan pengeluaran lainnya yang tidak lebih dari 30 persen dari pendapatan. Karena, alur keuangan yang sehat, 70 persen pendapatannya dialokasikan hanya untuk investasi dan simpanan masa depan.
Tentunya, anggaran belanja Lebaran yang dibuat dengan porsi 70 : 30 itu, setelah dipotong zakat, infaq maupun sedekah. Sebelum menyusun anggaran pengeluaran, kenalilah lebih dahulu secara mendalam antara kebutuhan dengan keinginan. Karena, kebutuhan merupakan belanja yang paling pokok, jangan sampai dikalahkan oleh keinginan. Seperti halnya membeli beras harus diutamakan daripada mengganti handphone dengan yang baru.
Setelah jelas mana pengeluaran yang bersifat kebutuhan dan keinginan, buatlah daftar belanja berikut anggarannya. Sehingga, ketika hendak membeli fashion, kebutuhan dapur, baga-bagi angpau atau kebutuhan lainnya, tidak melebihi anggaran yang telah ditulis tadi. Karena, salah satu penyebab membengkaknya pengeluaran saat Lebaran adanya keinginan membeli barang atau makanan yang tidak memperhatikan kondisi kuangan.
Apalagi, mendekati Lebaran, biasanya para pengelola mall ramai-ramai menebar jaring bernama ‘diskon gede’. Padahal, jika diperhatikan lebih teliti, iming-iming diskon dengan harga normal di luar Lebaran tidak jauh berbeda. Coba saja anda catat, harga barang setelah dipotong diskon dan bandingkan setelah harganya normal kembali, biasanya harganya juga sama.
Mengikuti fashion yang sedang tren saat Lebaran, memang tidak ada salahnya. Namun, tetap berpedoman pada anggaran yang telah ditulis tadi, dengan cara mencari harganya yang lebih hemat. anda bisa membandingkan harganya antar mall, atau mencari harganya yang lebih bersahabat di toko online.
Agar belanja fashion maupun kebutuhan lainnya tidak melampui anggaran yang telah disusun, cobalah berbelanja tidak membawa anggota keluarga lainnya. Bagi anda yang telah berkeluarga cukuplah pasangan anda yang turut mendampingi. Karena, selera anda dengan anggota keluarga lainnya biasanya beragam. Sehingga, anda bisa saja terpengaruh berbelanja keluar dari anggaran yang telah disusun.
Selain itu, tidak perlu memaksakan diri mudik ke kampung halaman, jika benar-benar kondisinya sedang bokek. Anda bisa memanfaatkan layanan call atau sms untuk menghubungi orang tua atau kerabat di kampung.
Apalagi saat ini layanan video call sudah tidak menjadi barang mahal lagi, bisa dijadikan alternatif mengucapkan idul fitri. Jika sudah terlanjur berada di kampung halaman, cepat-cepatlah kembali ke tempat perantauan. Agar bisa mengirit pengeluaran dan kembali beraktifitas produktif. Semoga bermanfaat. (*)

0 Response to "Mengatur Keuangan Saat Lebaran"
Posting Komentar
Komentar yang mengandung tulisan p*rn*grafi, penghinaan, dan provokasi akan dihapus admin.